
Sebenarnya saya tidak tahu harus memulai dari mana tulisan ini, karena saya adalah tipe orang yang tidak terlalu bisa mengingat-ingat pengalaman. Apalagi pengalaman ini sudah cukup lama bagi saya. Tapi ini adalah sebuah memoar yang sangat berharga bagi saya secara pribadi. Yang jelas saya lupa-lupa ingat tentang pengalaman ini, tetapi secara keseluruhan saya tidak akan pernah lupa pengalaman yang menakjubkan ini. Mengapa saya mengatakan ini adalah pengalaman yang menakjubkan?, jawabannya karena ini adalah pengalaman yang memberkan ‘residu nilai’ buat saya dan mungkin teman-teman perjalanan saya yang lainnya.
Supaya lebih filmis, saya akan mengawali tulisan ini dengan prolog, “Kejadian-kejadian dalam cerita ini diambil dari kejadian nyata para pelakunya. Bila ada kesamaan tempat, nama, dan wajah, itu memang benar adanya, tetapi kalau kesalahan penyebutan nama tempat, itu memang dari penulis yang lemah ingatannya”.
Awal cerita dimulai dari Sekolah Alam Bogor (ceritanya kita fast forward saja ya….), dari ngobrol-ngobrol di dapur, berbincang di gudang outbound, sampai waktu kita lagi nyopotin patil lele untuk acara tangkap ikan, akhirnya sepakatlah kita (Pak Arief, Pak Soleh, Pak Endang, dan saya) akan melakukan petualangan yang dahsyat (lebay, untuk menambahkan kesan dramatis), yaitu susur pantai selatan (kedengaran serem kan?), rutenya adalah dari Pantai Bayah yang masuk ke wilayah Provinsi Banten, sampai ke Pantai Cisolok yang masuk wilayah Kabupaten Sukabumi. Kedengarannya seperti jauh ya?, padahal pada kenyataannya kita hanya menempuh jarak ±5 km. Tapi karena titik pemberangkatannya dari perbatasan kedua wilayah, maka kedengarannya seperti jauh (supaya lebih dramatis lagi…).
Kita berempat janjian berkumpul di depan Terminal Baranang Siang Bogor pukul enam pagi. Yang pertama datang adalah saya dan Pak Arief (jadinya kita dapat jatah sarapan lontong sayur). Sambil menunggu teman-teman yang lain, kita mendengarkan cerita bapak lontong sayur tentang pengalaman hidupnya meniti karier sebagai tukang lontong dari bawah sampai agak atas dikit (nah lo, bingung?, sama…), sampai jualan lontong pake pikulan, sampai sekarang pakai roda (ruarr binasa…!). Akhirnya selang beberapa wktu kemudian, waktu tepatnya tidak tahu, parameternya adalah kita selesai makan dan mendengarkan kisah hidup bapak tukang lontong dalam meniti kariernya (kira-kira aja sendiri!), datanglah Pak Soleh, kemudian beberapa menit kemudian datanglah Pak Endang yang langsung riweuh nyari toilet umum (ritual Pak Endang kalau mau pergi kemana pun, pisss..!).
Here we go…!!
Singkat kata, kita berempat pun berangkat naik bis…. jurusan Bogor-Pelabuhan Ratu (kalau mau disebutkan provider bisnya didalam titik-titik, silahkan menghubungi Manajemen Salam ed-venture). Awalnya kita berencana untu naik bis AC, tetapi karena yang pertama didapat adalah bis ekonomi, it’s OK lah, tak ada rotan akar pun jadi, namanya juga back packing.
Akhirnya kita sampai di Terminal Pelabuhan Ratu. Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan, kita berbelanja dulu di Pasar Pelabuhan Ratu. Selesai belanja, kita melanjutkan perjalanan dengan naik elf jurusan Bayah. Dengan berdesak-desakan seperti tipikal angkutan-angkutan umum di Indonesia lainnya, dengan mengatasnamakan mengejar setoran, naiklah kita ke Angkutan umum tersebut. Perjalanan memakan waktu ±1 jam. Ditengah jalan tiba-tiba ada bunyi ‘gedebuk’, mobil masih melaju cukup kencang dan seperti biasa cenderung ugal-ugalan, sampai akhirnya sang sopir tersadar dari euphoria mengemudinya, dia pun memerintahkan bapak kondekturnya untuk mengecek benda apakah gerangan yang terjatuh tadi?. Ternyata yang terjatuh adalah barang titipan orang kepada pak sopir. Mobil yang kita tumpangi pun berhenti agak lama karena menunggu bapak sopir dan kondekturnya menemukan barang titipan yang terjatuh tersebut, walaupun akhirnya tetap tidak ketemu. Malang benar nasibmu pak sopir (kami berempat turut bersimpati yang sedalam-dalamnya).
(pegel juga nulis terus, tapi ini harus selesai,yuk mari….).
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya sampailah kita ke titik pemberangkatan pertama susur pantai selatan. Disana kita diserbu tukang ojek, tetapi kita menolak mereka dengan kehalusan budi yang kita miliki, bahwa kita sedang lintas alam, jadi kita bertekad akan berjalan saja, tetapi setelah beberapa puluh meter kita berjalan, idealisme kita pun luntur saat bapak Soleh dengan skill khususnya menyetop truk dijalan untuk minta tumpangan, and here we are, kita pun naik tumpangan gratis itu walaupun terasa sedang berarung jeram karena jalan yang menurun dan super tidak rata, sehingga badan kita terlempar, terbanting dan kadang tergoncang hebat (lebay lagi….).

Truk berhenti di bibir pantai dan kita pun bergerak untuk menemukan titik bivak pertama, tetapi karena cacing dalam perut kita berdemo, sehingga mengharuskan kita menuruti para cacing tersebut, kita pun memasak menu pertama kita hari itu. Setelah selesai makan, kita pun bergerak ke titik bivak pertama yaitu Sungai ‘nightmare’ Cibareno dan memutuskan bermalam disana, yang berarti membuat bivak dan makan lagi (kegiatan rutin kita selain berjalan dan tidur, sungguh hidup yang indah bukan?).
Malam pertama kita lewati dengan mencekam, karena itu malam yang penuh dengan pertempuran dengan nyamuk-nyamuk pantai yang sepertinya sangat jarang mendapat mangsa empuk seperti kami, sehingga jadilah kami berempat menjadi bulan-bulanan mereka, dan seperti yang sudah bisa diprediksi, kita pun kalah telak karena jumlah yang tidak seimbang (disanalah saya menyadari, kenapa kita tidak terpikir untuk membawa raket listrik pembunuh….). Kekalahan yang paling telak dialami oleh Pak Endang yang mengalami kerusakan parah di bagian artikulatornya (bibir-red). Kita flash back sedikit mengapa Pak Endang mengalami kerusakan yang sedemikian parahnya, ceritanya Pak Endang terlalu paranoid terhadap nyamuk sehingga beliau menutup tanpa sisa seluruh badannya dengan sleeping bag, kemudian kepala ditutup dengan kupluk dan hanya menyisakan bibir saja, so tanpa ampun habislah bibir Pak Endang dilumat nyamuk-nyamuk kurang ajar tersebut, sehingga bibir pa Endang mirip bintang film kartun Suneo (maaf Pak Endang , tapi ini fakta, hehe…piss!).
Setelah menghabiskan malam pertama yang berat (nah lo, jangan berasosiasi ya….!), terutama bagi Pak Endang, pagi pun menyingsing. Kita pun bersiap-siap membereskan bivak dan menyiapkan tali kernmantel untuk menyebrang Sungai Cibareno, para ranger susur pantai pun siap menghadapi tantangan yang akan dihadapi hari ini. Pak Soleh menyiapkan tali kernmantel yang diikatkan ke badan Pak Arief yang akan menyebrang duluan untuk mengikatkan tali kernmantel ke seberang sungai yang nantinya akan menjadi alat berpegangan kita dalam menyeberang sungai. Pak Arief pun mulai menyeberang dengan seutas kernmantel tersebut. Perlahan tapi pasti Pak Arief dengan tas carrier 25 kilogram di pundaknya, menyebrang sambil mengikuti arus sungai, sementara saya dan Pak Soleh memegangi talinya yang sudah terasa berat ditangan kami berdua. Seiring dengan bertambah beratnya tali tersebut, kami pun melihat Pak Arief sudah mulai terseret arus dan sebagian besar badannya sudah masuk kedalam air, sementara tali kernmantel pun sudah mulai habis di tangan kami berdua, sehingga saya hanya memegang ujungnya saja. Tiba-tiba Pak Arief berteriak, “Ulur….ulur….!”. Perasaan kita berdua pun memberitahukan bahwa ada yang tidak beres di ujung tali sana dimana Pak Arief terikat, tetapi keputusan kita saat itu adalah tetap menahan tali tersebut jangan sampai terlepas dari tangan kami dan kita pun mengikat ujungnya ke pohon kelapa yang sudah tumbang dipinggir sungai (asumsi kami saat itu adalah, kalau kami melepaskan talinya Pak Arief bisa hanyut). Pak Arief pun berjuang melawan arus sungai yang cukup deras pagi itu dan akhirnya berhasil mencapai tepi sungai. Bravo!, kami pun lega, tetapi saat saya melihat ke samping, ternyata sudah banyak orang yang berkerumun, dan menurut persepsi mereka, mereka mendengar orang berteriak, “Tulung…tulung…!”(teriakan minta tolong dalam bahasa sunda -red), padahal teriakan Pak Arief itu, “Ulur…., ulur….! (emang terdengar mirip ya?).

Orang kedua yang menyebrang adalah Pak Endang dengan memegang tali yang sudah diikatkan Pak Arief di ujung sungai satunya, kemudian Pak Soleh dan yang terakhir adalah saya.
Residu nilai yang didapat dari pengalaman menyeberang sungai ‘nightmare’ Cibareno pagi itu adalah:
1. Menjadi orang pertama atau inisiator itu resikonya paling tinggi (leadership).
2. Harus lebih menghargai hidup (value living).
Leganya saat kita berempat tiba di seberang sungai, tetapi euphoria saya berakhir tatkala menyadari bahwa masih ada satu cabang sungai lagi yang harus diseberangi. Karena ingin meminimalisasi resiko, belajar dari pengalaman menyeberang anak sungai pertama, kita pun mencari aliran sungai yang tidak terlalu deras. Akhirnya kita memutuskan menyeberang di pangkal cabang Sungai Cibareno. Urutannya, Pak Arief, Pak Soleh, Pak Endang, dan terakhir saya. Sementara Pak Arief, Pak Soleh, dan Pak Endang sudah sampai ke ujung, saya merasakan kaki saya sepertinya susah digerakkan dan terasa lemas sekali. Saat itu terpikir dua opsi di kepala saya. Opsi pertama, saya berjalan pelan tapi pasti sambil menahan beban tubuh dan tas carrier di pundak saya supaya tidak terjatuh ke air. Sedangkan opsi kedua, saya menghanyutkan diri dan membiarkan seluruh badan saya basah dan mengikuti arus sambil mendekati tepi sungai. Tetapi akhirnya saya pilih opsi pertama yaitu berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh, tetapi kaki saya lemas sekali dan susah digerakkan, sampai ada penduduk lokal yang yang menjemput saya dan membawa saya ke tepi sungai dengan hanya memegang tangan saya (dengan hanya memegang saja dan tidak menarik saya, tetapi saya merasakan ada tambahan energi, sugesti atau apakah itu saya tidak tahu)
Residu nilai:
1. Memperhatikan kearifan lokal (act like native).
2. Saya harus melatih kaki saya supaya lebih kuat. Seperti kata Pak Arief, “Tidak ada hebat, yang ada hanyalah terlatih atau tidak”(physical skill).
3. Menguasai rasa takut (Vashquis fear and panic).
Memang benar peribahasa yang mengatakan, “saat-saat tergelap adalah saat ketika menjelang fajar”. Dalam perjalanan ini saya ibaratkan saat-saat tergelapnya adalah saat kita menyeberang sungai, karena inilah tahap yang terberat dalam perjalanan ini menurut saya. Dan yang diibaratkan fajar dalam perjalanan ini adalah pasca penyeberangan yang berat yang banyak menyisakan ‘residu nilai’ bagi saya pribadi. Setelah penyeberangan sungai itu, saya menemukan banyak keindahan pantai dan ekosistemnya. Saya berpikir bahwa kita tidak akan menemukan semua ini jika kita tinggal di rumah. Nilai yang saya ambil dari seluruh perjalanan ini adalah, “Keluarlah dari zona nyamanmu di rumah, ambil resiko kehidupan, dan hasilnya kita akan menemukan keindahan-keindahan yang tidak kita duga sebelumnya”. Yang kedua, “ hidup ini hampir selalu memihak kepada orang-orang pemberani (risk taker)”.

Kita lanjut lagi ceritanya. Di sepanjang pantai selatan yang kita lewati, saya begitu takjub melihat pahatan-pahatan alam yang tidak ada tandingannya. Alam adalah seniman yang paling hebat dan agung, dan menyadarkan saya bahwa yang mengatur ini semua adalah yang Maha Hebat dan Maha Agung. Ya, di alam saya seakan-akan berhadapan langsung dengan-Nya, subhanallah. Sepanjang perjalanan hari itu kita diguyur hujan. Dengan mengenakan ponco (jas hujan lebar) saya terus berjalan bersama teman-teman. Walaupun saya kurang nyaman berjalan menggunakan ponco yang saya pakai karena cukup mengganggu keleluasaan langkah saya, apalagi saat harus melewati bukit-bukit karang yang membutuhkan keleluasaan bergerak, tetapi dari pada basah, ya sudahlah. Perjalanan hari kedua, paruh pertama ini menurut saya adalah perjalanan dengan medan terberat, karena kita banyak melewati bukit karang dan batu-batu pantai. Kita hanya berhenti pada saat makan dan melakukan sholat qashar.

Setelah paruh pertama di hari kedua kita melewati bukit-bukit karang, diparuh kedua hari itu medan yang kita lewati relatif lebih bersahabat karena kita lebih banyak melewati pasir pantai, dan di tengah perjalanan, sesekali kita jumpai beberapa gua dan air terjun, dan kita pun berhenti untuk sejenak menikmati keindahan air terjunnya sambil berfoto ria (narsisnya tetep dibawa, yuk….). Pokoknya kita bertiga (saya, Pak Soleh dan Pak Endang) serasa menjadi model dadakan dengan fotografernya Pak Arief. Terima kasih kepada Pak Arief yang sudah menjadikan kita laksana model, walaupun kita tidak photo-genic, tetapi setidaknya kita photoshop-genic (bisa diedit sana-sini untuk mendapat tampilan foto yang sempurna, hehe….). Kadang-kadang kita juga berpapasan dengan nelayan-nelayan yang sedang mencari ikan, dan melihat-lihat hasil tangkapan mereka, terkadang juga menawar-nawar, tetapi tidak pernah jadi membeli (ini keahlian khusus Pak Soleh, piss Pak!).

Akhirnya kita sampai dititik bivak kedua sekaligus bivak terakhir bagi kita, yaitu di bibir pantai yang banyak perahu warna-warni, di belakang bivak kita ada vila dan kita meminta izin untuk berbivak disana pada pengurus vila, dan diizinkan. Singkat kata, selesailah bivak kita, dengan moto, “Bivakku surgaku”. Dan seperti kegiatan rutin kita saat bivak sudah terpasang adalah siap-siap makan, sholat, dan tidur. Dan beruntungnya lagi, ternyata serangan nyamuk tidak terulang lagi malam itu, padahal kita sudah prepare pertahanan sebelum tidur, termasuk menyiapkan lotion anti nyamuk satu botol penuh punya Pak Soleh, kalaulah perlu diminum (nah lo!) supaya tragedi malam pertama tidak terulang lagi.
Tapi ternyata kita belum aman sepenuhnya malam itu. Bebas nyamuk iya, tapi celakanya malam itu bivak kita kebanjiran, beruntung hujan tidak turun terlalu deras, sehingga kita masih bisa hangat karena air tidak menembus matras dan sleeping bag kita masih kering. Masih bisa tidur nyenyak sampai pagi, Alhamdulillah.
Pagi-pagi aktivitas ‘food producing’ dan makan masih menjadi aktivitas yang mendominasi kita, dan saya senang sekali pagi itu karena saya bisa berenang dipantai sepuasnya (maklum, jarang melihat pantai). Setelah puas berenang dengan Pak Soleh dan Pak Endang kita pun sarapan, setelah itu kita antri mandi dirumah pengurus vila.
Setelah semuanya beres-beres peralatan masing-masing dan membongkar bivak, kita pulang naik angkutan umum ke terminal Pelabuhan Ratu. Dari terminal kita naik lagi bis jurusan Bogor-Pelabuhan Ratu, dan sampai ke Bogor sore hari.
Dalam perjalanan tiga hari ini banyak sekali’residu nilai’ yang saya peroleh. Dan dengan perjalanan tiga hari ini sedikit banyaknya kita jadi mengetahui sifat dan karakter teman seperjalanan kita terlepas dari kelebihan dan kekurangan masing-masing, kita adalah sebuah tim atau grup. Gunanya grup itu adalah, kekurangan salah satu anggota grup bisa terisi dengan kelebihan anggota lainnya, dan begitu pun sebaliknya kelebihan salah satu anggota bisa mengisi kekurangan anggota lainnya. That what team is for, and that what friends are for, thank you guys for this amazingly experiences!, trerutama buat Pak Arief yang sudah menciptakan momen berharga ini.
Salam….




