Memoar Susur Pantai Selatan

Posted: Desember 25, 2010 in ART


Sebenarnya saya tidak tahu harus memulai dari mana tulisan ini, karena saya adalah tipe orang yang tidak terlalu bisa mengingat-ingat pengalaman. Apalagi pengalaman ini sudah cukup lama bagi saya. Tapi ini adalah sebuah memoar yang sangat berharga bagi saya secara pribadi. Yang jelas saya lupa-lupa ingat tentang pengalaman ini, tetapi secara keseluruhan saya tidak akan pernah lupa pengalaman yang menakjubkan ini. Mengapa saya mengatakan ini adalah pengalaman yang menakjubkan?, jawabannya karena ini adalah pengalaman yang memberkan ‘residu nilai’ buat saya dan mungkin teman-teman perjalanan saya yang lainnya.

Supaya lebih filmis, saya akan mengawali tulisan ini dengan prolog, “Kejadian-kejadian dalam cerita ini diambil dari kejadian nyata para pelakunya. Bila ada kesamaan tempat, nama, dan wajah, itu memang benar adanya, tetapi kalau kesalahan penyebutan nama tempat, itu memang dari penulis yang lemah ingatannya”.

Awal cerita dimulai dari Sekolah Alam Bogor (ceritanya kita fast forward saja ya….), dari ngobrol-ngobrol di dapur, berbincang di gudang outbound, sampai waktu kita lagi nyopotin patil lele untuk acara tangkap ikan, akhirnya sepakatlah kita (Pak Arief, Pak Soleh, Pak Endang, dan saya) akan melakukan petualangan yang dahsyat (lebay, untuk menambahkan kesan dramatis), yaitu susur pantai selatan (kedengaran serem kan?), rutenya adalah dari Pantai Bayah yang masuk ke wilayah Provinsi Banten, sampai ke Pantai Cisolok yang masuk wilayah Kabupaten Sukabumi. Kedengarannya seperti jauh ya?, padahal pada kenyataannya kita hanya menempuh jarak ±5 km. Tapi karena titik pemberangkatannya dari perbatasan kedua wilayah, maka kedengarannya seperti jauh (supaya lebih dramatis lagi…).

Kita berempat janjian berkumpul di depan Terminal Baranang Siang Bogor pukul enam pagi. Yang pertama datang adalah saya dan Pak Arief (jadinya kita dapat jatah sarapan lontong sayur). Sambil menunggu teman-teman yang lain, kita mendengarkan cerita bapak lontong sayur tentang pengalaman hidupnya meniti karier sebagai tukang lontong dari bawah sampai agak atas dikit (nah lo, bingung?, sama…), sampai jualan lontong pake pikulan, sampai sekarang pakai roda (ruarr binasa…!). Akhirnya selang beberapa wktu kemudian, waktu tepatnya tidak tahu, parameternya adalah kita selesai makan dan mendengarkan kisah hidup bapak tukang lontong dalam meniti kariernya (kira-kira aja sendiri!), datanglah Pak Soleh, kemudian beberapa menit kemudian datanglah Pak Endang yang langsung riweuh nyari toilet umum (ritual Pak Endang kalau mau pergi kemana pun, pisss..!).

Here we go…!!

Singkat kata, kita berempat pun berangkat naik bis…. jurusan Bogor-Pelabuhan Ratu (kalau mau disebutkan provider bisnya didalam titik-titik, silahkan menghubungi Manajemen Salam ed-venture). Awalnya kita berencana untu naik bis AC, tetapi karena yang pertama didapat adalah bis ekonomi, it’s OK lah, tak ada rotan akar pun jadi, namanya juga back packing.

Akhirnya kita sampai di Terminal Pelabuhan Ratu. Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan, kita berbelanja dulu di Pasar Pelabuhan Ratu. Selesai belanja, kita melanjutkan perjalanan dengan naik elf jurusan Bayah. Dengan berdesak-desakan seperti tipikal angkutan-angkutan umum di Indonesia lainnya, dengan mengatasnamakan mengejar setoran, naiklah kita ke Angkutan umum tersebut. Perjalanan memakan waktu ±1 jam. Ditengah jalan tiba-tiba ada bunyi ‘gedebuk’, mobil masih melaju cukup kencang dan seperti biasa cenderung ugal-ugalan, sampai akhirnya sang sopir tersadar dari euphoria mengemudinya, dia pun memerintahkan bapak kondekturnya untuk mengecek benda apakah gerangan yang terjatuh tadi?. Ternyata yang terjatuh adalah barang titipan orang kepada pak sopir. Mobil yang kita tumpangi pun berhenti agak lama karena menunggu bapak sopir dan kondekturnya menemukan barang titipan yang terjatuh tersebut, walaupun akhirnya tetap tidak ketemu. Malang benar nasibmu pak sopir (kami berempat turut bersimpati yang sedalam-dalamnya).

(pegel juga nulis terus, tapi ini harus selesai,yuk mari….).

Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya sampailah kita ke titik pemberangkatan pertama susur pantai selatan. Disana kita diserbu tukang ojek, tetapi kita menolak mereka dengan kehalusan budi yang kita miliki, bahwa kita sedang lintas alam, jadi kita bertekad akan berjalan saja, tetapi setelah beberapa puluh meter kita berjalan, idealisme kita pun luntur saat bapak Soleh dengan skill khususnya menyetop truk dijalan untuk minta tumpangan, and here we are, kita pun naik tumpangan gratis itu walaupun terasa sedang berarung jeram karena jalan yang menurun dan super tidak rata, sehingga badan kita terlempar, terbanting dan kadang tergoncang hebat (lebay lagi….).

Truk berhenti di bibir pantai dan kita pun bergerak untuk menemukan titik bivak pertama, tetapi karena cacing dalam perut kita berdemo, sehingga mengharuskan kita menuruti para cacing tersebut, kita pun memasak menu pertama kita hari itu. Setelah selesai makan, kita pun bergerak ke titik bivak pertama yaitu Sungai ‘nightmare’ Cibareno dan memutuskan bermalam disana, yang berarti membuat bivak dan makan lagi (kegiatan rutin kita selain berjalan dan tidur, sungguh hidup yang indah bukan?).

Malam pertama kita lewati dengan mencekam, karena itu malam yang penuh dengan pertempuran dengan nyamuk-nyamuk pantai yang sepertinya sangat jarang mendapat mangsa empuk seperti kami, sehingga jadilah kami berempat menjadi bulan-bulanan mereka, dan seperti yang sudah bisa diprediksi, kita pun kalah telak karena jumlah yang tidak seimbang (disanalah saya menyadari, kenapa kita tidak terpikir untuk membawa raket listrik pembunuh….). Kekalahan yang paling telak dialami oleh Pak Endang yang mengalami kerusakan parah di bagian artikulatornya (bibir-red). Kita flash back sedikit mengapa Pak Endang mengalami kerusakan yang sedemikian parahnya, ceritanya Pak Endang terlalu paranoid terhadap nyamuk sehingga beliau menutup tanpa sisa seluruh badannya dengan sleeping bag, kemudian kepala ditutup dengan kupluk dan hanya menyisakan bibir saja, so tanpa ampun habislah bibir Pak Endang dilumat nyamuk-nyamuk kurang ajar tersebut, sehingga bibir pa Endang mirip bintang film kartun Suneo (maaf Pak Endang , tapi ini fakta, hehe…piss!).

Setelah menghabiskan malam pertama yang berat (nah lo, jangan berasosiasi ya….!), terutama bagi Pak Endang, pagi pun menyingsing. Kita pun bersiap-siap membereskan bivak dan menyiapkan tali kernmantel untuk menyebrang Sungai Cibareno, para ranger susur pantai pun siap menghadapi tantangan yang akan dihadapi hari ini. Pak Soleh menyiapkan tali kernmantel yang diikatkan ke badan Pak Arief yang akan menyebrang duluan untuk mengikatkan tali kernmantel ke seberang sungai yang nantinya akan menjadi alat berpegangan kita dalam menyeberang sungai. Pak Arief pun mulai menyeberang dengan seutas kernmantel tersebut. Perlahan tapi pasti Pak Arief dengan tas carrier 25 kilogram di pundaknya, menyebrang sambil mengikuti arus sungai, sementara saya dan Pak Soleh memegangi talinya yang sudah terasa berat ditangan kami berdua. Seiring dengan bertambah beratnya tali tersebut, kami pun melihat Pak Arief sudah mulai terseret arus dan sebagian besar badannya sudah masuk kedalam air, sementara tali kernmantel pun sudah mulai habis di tangan kami berdua, sehingga saya hanya memegang ujungnya saja. Tiba-tiba Pak Arief berteriak, “Ulur….ulur….!”. Perasaan kita berdua pun memberitahukan bahwa ada yang tidak beres di ujung tali sana dimana Pak Arief terikat, tetapi keputusan kita saat itu adalah tetap menahan tali tersebut jangan sampai terlepas dari tangan kami dan kita pun mengikat ujungnya ke pohon kelapa yang sudah tumbang dipinggir sungai (asumsi kami saat itu adalah, kalau kami melepaskan talinya Pak Arief bisa hanyut). Pak Arief pun berjuang melawan arus sungai yang cukup deras pagi itu dan akhirnya berhasil mencapai tepi sungai. Bravo!, kami pun lega, tetapi saat saya melihat ke samping, ternyata sudah banyak orang yang berkerumun, dan menurut persepsi mereka, mereka mendengar orang berteriak, “Tulung…tulung…!”(teriakan minta tolong dalam bahasa sunda -red), padahal teriakan Pak Arief itu, “Ulur…., ulur….! (emang terdengar mirip ya?).

Orang kedua yang menyebrang adalah Pak Endang dengan memegang tali yang sudah diikatkan Pak Arief di ujung sungai satunya, kemudian Pak Soleh dan yang terakhir adalah saya.

Residu nilai yang didapat dari pengalaman menyeberang sungai ‘nightmare’ Cibareno pagi itu adalah:

1. Menjadi orang pertama atau inisiator itu resikonya paling tinggi (leadership).
2. Harus lebih menghargai hidup (value living).

Leganya saat kita berempat tiba di seberang sungai, tetapi euphoria saya berakhir tatkala menyadari bahwa masih ada satu cabang sungai lagi yang harus diseberangi. Karena ingin meminimalisasi resiko, belajar dari pengalaman menyeberang anak sungai pertama, kita pun mencari aliran sungai yang tidak terlalu deras. Akhirnya kita memutuskan menyeberang di pangkal cabang Sungai Cibareno. Urutannya, Pak Arief, Pak Soleh, Pak Endang, dan terakhir saya. Sementara Pak Arief, Pak Soleh, dan Pak Endang sudah sampai ke ujung, saya merasakan kaki saya sepertinya susah digerakkan dan terasa lemas sekali. Saat itu terpikir dua opsi di kepala saya. Opsi pertama, saya berjalan pelan tapi pasti sambil menahan beban tubuh dan tas carrier di pundak saya supaya tidak terjatuh ke air. Sedangkan opsi kedua, saya menghanyutkan diri dan membiarkan seluruh badan saya basah dan mengikuti arus sambil mendekati tepi sungai. Tetapi akhirnya saya pilih opsi pertama yaitu berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh, tetapi kaki saya lemas sekali dan susah digerakkan, sampai ada penduduk lokal yang yang menjemput saya dan membawa saya ke tepi sungai dengan hanya memegang tangan saya (dengan hanya memegang saja dan tidak menarik saya, tetapi saya merasakan ada tambahan energi, sugesti atau apakah itu saya tidak tahu)

Residu nilai:
1. Memperhatikan kearifan lokal (act like native).
2. Saya harus melatih kaki saya supaya lebih kuat. Seperti kata Pak Arief, “Tidak ada hebat, yang ada hanyalah terlatih atau tidak”(physical skill).
3. Menguasai rasa takut (Vashquis fear and panic).

Memang benar peribahasa yang mengatakan, “saat-saat tergelap adalah saat ketika menjelang fajar”. Dalam perjalanan ini saya ibaratkan saat-saat tergelapnya adalah saat kita menyeberang sungai, karena inilah tahap yang terberat dalam perjalanan ini menurut saya. Dan yang diibaratkan fajar dalam perjalanan ini adalah pasca penyeberangan yang berat yang banyak menyisakan ‘residu nilai’ bagi saya pribadi. Setelah penyeberangan sungai itu, saya menemukan banyak keindahan pantai dan ekosistemnya. Saya berpikir bahwa kita tidak akan menemukan semua ini jika kita tinggal di rumah. Nilai yang saya ambil dari seluruh perjalanan ini adalah, “Keluarlah dari zona nyamanmu di rumah, ambil resiko kehidupan, dan hasilnya kita akan menemukan keindahan-keindahan yang tidak kita duga sebelumnya”. Yang kedua, “ hidup ini hampir selalu memihak kepada orang-orang pemberani (risk taker)”.

Kita lanjut lagi ceritanya. Di sepanjang pantai selatan yang kita lewati, saya begitu takjub melihat pahatan-pahatan alam yang tidak ada tandingannya. Alam adalah seniman yang paling hebat dan agung, dan menyadarkan saya bahwa yang mengatur ini semua adalah yang Maha Hebat dan Maha Agung. Ya, di alam saya seakan-akan berhadapan langsung dengan-Nya, subhanallah. Sepanjang perjalanan hari itu kita diguyur hujan. Dengan mengenakan ponco (jas hujan lebar) saya terus berjalan bersama teman-teman. Walaupun saya kurang nyaman berjalan menggunakan ponco yang saya pakai karena cukup mengganggu keleluasaan langkah saya, apalagi saat harus melewati bukit-bukit karang yang membutuhkan keleluasaan bergerak, tetapi dari pada basah, ya sudahlah. Perjalanan hari kedua, paruh pertama ini menurut saya adalah perjalanan dengan medan terberat, karena kita banyak melewati bukit karang dan batu-batu pantai. Kita hanya berhenti pada saat makan dan melakukan sholat qashar.

Setelah paruh pertama di hari kedua kita melewati bukit-bukit karang, diparuh kedua hari itu medan yang kita lewati relatif lebih bersahabat karena kita lebih banyak melewati pasir pantai, dan di tengah perjalanan, sesekali kita jumpai beberapa gua dan air terjun, dan kita pun berhenti untuk sejenak menikmati keindahan air terjunnya sambil berfoto ria (narsisnya tetep dibawa, yuk….). Pokoknya kita bertiga (saya, Pak Soleh dan Pak Endang) serasa menjadi model dadakan dengan fotografernya Pak Arief. Terima kasih kepada Pak Arief yang sudah menjadikan kita laksana model, walaupun kita tidak photo-genic, tetapi setidaknya kita photoshop-genic (bisa diedit sana-sini untuk mendapat tampilan foto yang sempurna, hehe….). Kadang-kadang kita juga berpapasan dengan nelayan-nelayan yang sedang mencari ikan, dan melihat-lihat hasil tangkapan mereka, terkadang juga menawar-nawar, tetapi tidak pernah jadi membeli (ini keahlian khusus Pak Soleh, piss Pak!).

Akhirnya kita sampai dititik bivak kedua sekaligus bivak terakhir bagi kita, yaitu di bibir pantai yang banyak perahu warna-warni, di belakang bivak kita ada vila dan kita meminta izin untuk berbivak disana pada pengurus vila, dan diizinkan. Singkat kata, selesailah bivak kita, dengan moto, “Bivakku surgaku”. Dan seperti kegiatan rutin kita saat bivak sudah terpasang adalah siap-siap makan, sholat, dan tidur. Dan beruntungnya lagi, ternyata serangan nyamuk tidak terulang lagi malam itu, padahal kita sudah prepare pertahanan sebelum tidur, termasuk menyiapkan lotion anti nyamuk satu botol penuh punya Pak Soleh, kalaulah perlu diminum (nah lo!) supaya tragedi malam pertama tidak terulang lagi.

Tapi ternyata kita belum aman sepenuhnya malam itu. Bebas nyamuk iya, tapi celakanya malam itu bivak kita kebanjiran, beruntung hujan tidak turun terlalu deras, sehingga kita masih bisa hangat karena air tidak menembus matras dan sleeping bag kita masih kering. Masih bisa tidur nyenyak sampai pagi, Alhamdulillah.

Pagi-pagi aktivitas ‘food producing’ dan makan masih menjadi aktivitas yang mendominasi kita, dan saya senang sekali pagi itu karena saya bisa berenang dipantai sepuasnya (maklum, jarang melihat pantai). Setelah puas berenang dengan Pak Soleh dan Pak Endang kita pun sarapan, setelah itu kita antri mandi dirumah pengurus vila.
Setelah semuanya beres-beres peralatan masing-masing dan membongkar bivak, kita pulang naik angkutan umum ke terminal Pelabuhan Ratu. Dari terminal kita naik lagi bis jurusan Bogor-Pelabuhan Ratu, dan sampai ke Bogor sore hari.

Dalam perjalanan tiga hari ini banyak sekali’residu nilai’ yang saya peroleh. Dan dengan perjalanan tiga hari ini sedikit banyaknya kita jadi mengetahui sifat dan karakter teman seperjalanan kita terlepas dari kelebihan dan kekurangan masing-masing, kita adalah sebuah tim atau grup. Gunanya grup itu adalah, kekurangan salah satu anggota grup bisa terisi dengan kelebihan anggota lainnya, dan begitu pun sebaliknya kelebihan salah satu anggota bisa mengisi kekurangan anggota lainnya. That what team is for, and that what friends are for, thank you guys for this amazingly experiences!, trerutama buat Pak Arief yang sudah menciptakan momen berharga ini.

Salam….

MAAFKAN AKU YA ALLAH, HARI INI AKU MARAH…

Posted: November 15, 2010 in ART

Hari ini saya mendapatkan pelajaran berharga dari “teman bertengkar” saya. Awalnya kami sedang mengobrol tentang pengalaman yang mengharuskan kita berkelompok untuk beberapa hari. Mulai dari pengalaman-pengalaman lucu sampai pengalaman yang tidak enak. Sampai akhirnya saya berkata kepada teman saya itu bahwa dengan berkelompok seperti itu, kita jadi mengenal karakter masing-masing orang dalam kelompok tersebut, karena karakter masing-masing orang keluar saat kita berada di alam bebas (format acaranya kebetulan berkegiatan di alam bebas). Dan tanpa diduga, ternyata teman saya langsung mengomentari itu dengan nada melecehkan (asosiasi saya pada waktu itu). Teman saya berkata bahwa dia mengetahui karakter teman sekelompoknya termasuk saya. Bahwa si A begini, si B begitu, si C begitu (semuanya dalam nada yang menghakimi, dan formatnya negatif), dan akhirnya sampailah kepada karakter saya yang hampir sama formatnya dengan yang dilemparkan pada teman-teman yang lain.

Hati saya langsung panas mendengar itu semua, walaupun saya tahu bahwa ada beberapa pernyataan buruk tentang saya yang saya sadari betul, memang itulah sifat buruk saya. Tapi itulah anehnya manusia, saya malah merasa bahwa teman saya itu salah. Saat itu secara spontan, hati dan rasio saya masing-masing menawarkan satu buah respon yang harus saya lakukan kepada teman saya tersebut. Hati saya menawarkan respon, bahwa saya tidak usah memperpanjang itu semua, karena itu memang benar. Tapi rasio saya menawarkan respon yang sebaliknya, responnya lebih sengit, yaitu dengan perlawanan, dan saya tidak boleh kalah, dan kalau saya mengalah saya akan kehilangan harga diri saya di depan orang lain (saat itu kami bertiga, satu orang lagi teman kami yang lain). Dan sudah bisa ditebak, saya akan memilih opsi yang ditawarkan oleh rasio, yaitu saya harus membela habis-habisan “harga diri” saya dengan emosi yang susah untuk dibendung. Teman saya pun tidak mau kalah, dia makin meninggikan nada bicaranya, saya juga tidak mau mengalah dan bertekad, bahwa saya tidak boleh kalah saat ini.

Sampai beberapa waktu lamanya perdebatan itu semakin sengit, dan masing-masing orang tidak mau mengalah, sampai akhirnya saya melihat teman saya itu tidak bicara lagi, dan tiba-tiba sesuatu yang dingin masuk kedalam hati saya dan hati saya berkata: “Ya Allah, saya telah menyakiti hati seseorang”. Dan tiba-tiba hati saya membimbing tangan saya untuk dijulurkan kepada teman saya, kemudian hati saya juga membimbing mulut saya untuk mengucapkan minta maaf kepadanya. Teman saya itu hanya memandang untuk beberapa saat lamanya, dan akhirnya dia pun menyambut uluran tangan saya tersebut, sambil berkata: “ Ya, saya maafkan!”, sambil berlalu pergi.

Mengapa saya katakan bahwa saya mendapatkan pelajaran berharga dari “teman bertengkar” saya tersebut?. Jawabannya karena pertengkaran tersebut memberikan hikmah tersendiri bagi saya, dan berkesimpulan bahwa saya tidak menang waktu itu, tapi saya telah di-KO (dikalahkan-red) oleh diri saya sendiri. Inilah kekalahan-kekalahan saya:

Kekalahan pertama: saat kita bernafsu ingin mengalahkan seseorang, saat itu saya telah kalah.

Orang yang beruntung adalah orang yang mendengarkan kata hatinya, saat itu hati saya menawarkan respon bahwa saya harus menghentikan perdebatan kusir tersebut, karena tidak akan ada manfaatnya, tapi sebaliknya saya malah melaksanakan apa yang ditawarkan rasio saya, bahwa saya harus melawan dia. Dan ini berarti, hati saya telah dikalahkan oleh rasio saya yang biasanya membawa hawa nafsu.

Kekalahan ke dua: saya tidak melaksanakan nasihat Rasulullah yang menasihati: “Jangan marah!”.

Saya merasa kalah, karena saya tidak mengindahkan nasihat Rasulullah seperti yang tertuang dalam haditsnya bahwa kita harus menghindari marah, tapi saat itu saya benar-benar merasa marah kepada teman saya itu. Maafkan aku ya Rasulullah.

Kekalahan ke tiga: saya sudah masuk perangkap setan.

Perangkap setan memang dahsyat, karena dia bersembunyi dibalik rasio dan berhasil mengalahkan kata hati saya, yang artinya setan telah mengalahkan saya. Kedudukan sementara, 3-0.

Kekalahan ke empat: marah telah membuat saya tidak bisa melihat kejelekan-kejelekan diri sendiri.

Saya merasa heran, kenapa waktu itu saya malah membela kejelekan-kejelekan saya yang diutarakan teman saya tersebut?. Padahal seharusnya saya bersyukur karena saya telah diingatkan oleh teman saya itu. Itulah kekalahan saya yang lain. 4-0 tanpa balas.

Terakhir, ketika kita marah, maka saya kira kita harus melakukan hal-hal ini:

Pertama: perbanyaklah beristighfar ketika kita marah, karena itu akan mengurangi rasa marah kita. Ke dua: kalau memungkinkan bangkitlah untuk berwudhu, karena kalau kita berdiam diri saja, maka rasa marah itu saya rasakan makin besar. Ke tiga: minta maaflah kepada orang yang terkena kemarahan kita, waktu itu saya hanya melakukan poin ketiga ini saja, dan ternyata cukup efektif, kemarahan saya langsung berkurang setelah saya melakukan ini. Dan yang terakhir: minta maaflah kepada Allah, karena Allah Maha Pengampun, dan kalaupun teman yang terkena marah itu tidak memaafkan kita walaupun kita telah meminta maaf dengan tulus, tapi saya yakin Allah akan memaafkan kita, Insya Allah.

Astaghfirullaah…minal-khathaayaa, astaghfirullah…Rabbal-baraayaa.

Maafkan aku Duhai Allah, aku telah marah hari ini…

Maafkan aku temanku yang baik, aku telah marah kepadamu, dan terima kasih telah memberikan padaku pelajaran yang berharga ini.

Salam.

PENGANGGURAN TERDIDIK

Posted: November 6, 2010 in ART


Pernah tidak sih, mendengar istilah ‘pengangguran terdidik’?. Ini adalah fenomena yang menurut saya sangat menyedihkan. Karena kedengarannya agak ganjil. Tapi itulah realitas yang terjadi sekarang ini. Kita tidak bisa menafikkan, bahwa itu memang benar-benar tengah menjadi tren di negeri tercinta ini.

Fenomena lainnya yang sedang melanda generasi terdidik bangsa ini, yaitu mereka sedang dilanda demam CPNS. Sebenarnya ini bukan fenomena baru di negeri ini, karena ini menyangkut tentang mindset masyarakat kita yang sudah turun-temurun.

Sangat disayangkan, mengapa generasi terdidik bangsa ini sangat tersugesti ingin menjadi PNS. Menjadi PNS itu tidak salah, tapi kalau sudah menjadi begitu terobsesi, dan menjadi cita-cita yang mengalahkan segalanya, menurutku itu bukan sesuatu yang normal lagi, tetapi sudah diluar batas kewajaran. Saya sering mendengar keluhan-keluhan, bahwa lulusan-lulusan perguruan tinggi banyak yang kecewa gara-gara tidak ada lowongan CPNS yang sesuai dengan kualifikasi jurusan kuliahnya, atau yang sesuai dengan jenjang pendidikannya.

Menurut saya ini sebuah ironi yang menyedihkan, karena tidak sepantasnya seorang yang terdidik merasa bingung dengan masa depannya, seakan-akan, kalau gagal menjadi seorang PNS, maka akhir dari segalanya. Sebenarnya apa sih yang salah?. Saya tidak akan membicarakan tentang sistem pendidikan, karena itu bukan kualifikasi saya. Saya hanya orang awam yang merasa aneh dengan maraknya fenomena seperti ini.

Sangat disayangkan, bahwa banyak dari generasi terdidik kita, termasuk dalam angkatan kerja yang tidak terserap dunia kerja. Ini adalah sebuah keadaan yang menyedihkan, karena mereka adalah generasi yang diharapkan akan membawa keadaan yang lebih baik, minimal bagi diri mereka sendiri, dan maksimalnya bagi nusa, bangsa, dan agama (sudah seperti pejabat gaya bicaraku belum?). Mereka adalah generasi yang diharapkan akan menciptakan lapangan pekerjaan, bukan sebaliknya malah ikut-ikutan mencari-cari lapangan pekerjaan sampai pusing tujuh puluh keliling.

Menurutku yang kurang dari generasi terdidik bangsa ini adalah jiwa kewiraan. Kemudian satu lagi adalah; mindset yang sudah melekat di benak bangsa ini harus ‘disembuhkan’. Apa mindset yang sudah melekat tersebut?. Mindset tersebut adalah bahwa menjadi pegawai negeri, pegawai kantoran yang berdasi, bersafari, dan sebagainya itu adalah pekerjaan yang paling dihargai di masyarakat. Singkatnya, masyarakat kita lebih menghargai pegawai negeri, pegawai kantoran dan lain sebagainya itu, daripada orang yang menjadi pedagang, menjadi wirausahawan dan yang sejenisnya. Itulah mindset bangsa ini yang menurutku harus segera ‘disembuhkan’.

Dengan adanya mindset ini menurut saya potensi-potensi generasi terdidik ini jadi kabur. Contohnya saja, orang yang potensinya di bisnis, dia memilih menjadi pegawai kantoran, atau pegawai negeri, karena pandangan masyarakat umum tentang menjadi pegawai itulah yang lebih dihormati. Padahal suatu negara akan menjadi maju perekonomiannya, jika berapa persen saja penduduknya berwirausaha. Atau singkatnya, kemajuan ekonomi suatu Negara itu bisa terdongkrak jika persentase ‘enterpreneurship’-nya meningkat.

Sebelum kita merubah mindset suatu bangsa, alangkah baiknya jika kita merubah mindset diri sendiri. Karena semuanya dimulai dari bawah dulu, baru ke atas. Maka Insya Allah, mindset bangsa ini akan berubah perlahan-lahan.

Alangkah lebih baiknya jika kita mengembangkan potensi masing-masing. Yang berpotensi menjadi pebisnis, jadilah seorang pebisnis yang sukses. Jika potensi kita menjadi seorang sastrawan, jadilah sastrawan yang akan menghasilkan karya sastra yang besar, bahkan bisa mendapatkan nobel dari karya sastranya. Jika potensi kita jadi penyanyi, jadilah penyanyi yang go internasional. Insya Allah, mindset bangsa, atau bahkan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa akan terangkat.

Lihatlah Jepang dengan etos kerjanya, dan semnangat ’Bushido’-nya yang mendunia. Terakhir ini China dengan perekonomiannya yang berkembang pesat, mereka berhasil mengubah mindset mereka, yang hasilnya dapat mengubah kebudayaan dan peradaban menjadi maju seperti yang kita lihat dewasa ini. Mengapa bangsa ini tidak bisa?. Tentu bisa jika kita mau bekerja keras untuk itu.

Kita jangan jadi generasi terdidik yang mengharapkan kemurahan hati pemerintah saja, tapi kita harus jadi generasi yang menjadi ‘The agent of change’, generasi yang dapat mengurus diri sendiri, tanpa selalu tergantung pada negara. Kita adalah generasi terdidik, yang harus berbeda dengan generasi yang tidak terdidik. Orang yang putus sekolah saja banyak yang sukses, kenapa kita yang S1, S2, malah yang kebanyakan S, malah menjadi orang yang mengiba-iba, dan mengharap belas kasihan dari pihak lain?.

Bangkitlah generasi terdidik bangsa ini. Masa depan ada ditangan anda!.

Salam.

KAYA?

Posted: November 6, 2010 in ART

Pertanyaan yang kedengaran sepele, namun sebenarnya menggelitik yaitu; siapakah orang kaya itu?. Kebanyakan orang pasti berpendapat bahwa kaya yaitu; banyak uang, rumah bagus, dan lain-lain. Pokoknya yang berhubungan dengan materi, saya rasa. Tapi benarkah demikian?, itulah yang ingin saya tulis disini.

Manusia adalah individu yang tak pernah puas akan sumber daya disekelilingnya. Maka dari itu ada Ilmu Ekonomi. Manusia selalu berupaya untuk mendapatkan sumber daya yang berlimpah dengan cost yang sekecil-kecilnya, kira-kira seperti itulah prinsip dari ilmu ekonomi. Tapi kita tidak akan membahas tentang ilmu ekonomi, karena itu akan panjang sekali. Tapi ilmu ekonomi itu memang terkait dengan apa yang saat ini sedangkita bahas disini, yaitu tentang makna kaya.

Marilah kita persempit pengertian kaya, yaitu kehidupan yang tercukupi segala kebutuhannya. Menurut saya, orang dapat dikatakan kaya kalau dia sudah merasa tercukupi kebutuhannya. Perlu digaris bawahi disini yatu ‘kebutuhan’ bukannya ‘keinginan’, karena kebutuhan dan keinginan itu sangat berbeda sekali, dan biasanya manusia itu lebih berorientasi pada keinginannya alih-alih pada kebutuhannya, dan itu memang salah satu sifat dasar atau fitrah manusia.

Pertanyaannya, apakah orang kaya itu orang yang tercukupi segala keinginannya, ataukah orang yang tercukupi segala kebutuhannya?. Orang kebanyakan mungkin akan menjawab pertanyaan itu dengan; orang yang tercukupi keinginan dan juga kebutuhannya. Tapi mungkin ada yang menjawab orang yang tercukupi segala keinginannya, dan ada pula yang menjawab yang terpenuhi segala kebutuhannya. Semua jawaban diatas bisa benar, tapi bisa juga salah (nah lo, jadi…).

Marilah kita sedikit berpikir dengan pikiran yang jernih. Diatas sudah disinggung bahwa antara keinginan dan kebutuhan itu sangat berbeda, lalu apa bedanya?. Inilah yang menjadi benang merah dalam tulisan saya kali ini. Menurut saya, kebutuhan itu ada batasnya, tapi keinginan itu tak ada batasnya. Tapi kita kadang terjebak antara kebutuhan dan keinginan. Contoh; ketika kita pergi ke mal untuk membeli kebutuhan sehari-hari, kita melewati sebuah toko pakaian, dan akhirnya kita mampir ketoko tersebut, melihat-lihat pakaian yang bagus-bagus, dan akhirnya membeli pakaian tersebut. Setelah itu, kita melihat sepatu yang dipajang disebuah toko, dan kita membelinya juga, Itu bukan merupakan suatu kebutuhan lagi, tapi sudah berubah menjadi keinginan. Sampai akhirnya budget kita jadi bertambah dari budget semula.

Mari kita studi kasus tentang sebuah keluarga sederhana yang mempunyai penghasilan perbulan kurang dari tiga juta rupiah, dan sebuah keluarga lainnya mempunyai penghasilan sepuluh juta, atau tiga kali lipat lebih dari keluarga yang pertama. Tapi anehnya, keluarga yang pertama secara umum kehidupannya lebih bahagia dari pada keluarga yang kedua. Dan jawabannya ternyata terletak pada cara keluarga pertama yang berhasil me-manage keuangan mereka, yaitu dengan memisahkan antara kebutuhan dengan keinginan. Keluarga pertama ini memenuhi semua kebutuhannya terlebih dahulu, baru kemudian mereka berusaha memenuhi keinginannya tanpa berlebihan. Sedangkan keluarga kedua yang berpenghaslan tiga kali lipat dari keluarga pertama, mereka cenderung bermewah-mewahan, alias mendahulukan keinginan alih-alih mendahulukan kebutuhan.

Jadi apa definisi kaya?. Menurutku itu pertanyaan yang relatif, artinya tergantung dari orang yang mau mengartikan pertanyaan trsebut. Sebab , orang yang banyak uang dia belum tentu kaya (nah, tambah bingung lagi, terusin aja baca!).

Dalam Islam, kita mengenal sedekah. Sedekah sebenarnya bisa menjadi parameter kekayaan seseorang. Kalau orang sudah banyak bersedekah, dia menurut saya sudah layak dikatakan kaya, walaupun penghasilan orang tersebut kecil. Pun sebaliknya, jika seseorang tidak mau bersedekah, padahal penghasilannya itu ratusan juta, dia tetaplah orang yang miskin. Rasulullah itu kaya atau miskin?, Rasulullah itu orang kaya, tapi hidupnya sederhana. Itulah yang harus menjadi cerminan kita sebagai seorang yang beragama, yang dalam hal ini Islam, agama yang saya dan anda anut.

Jadi, sudah mendapat definisi kaya?

Salam.

Pernahkah kamu mendengar kata-kata seperti ini; “Sepertinya enak ya, kerjaan kamu?, kalo kerjaanku sih ga enak banget, harus gini lah, harus gitu lah, wah, pokoknya ribet deh.”. Pasti kita pernah mendengar ungkapan seperti itu. Atau; “Enak ya kuliah di jurusan kamu, dosennya baik-baik, ga banyak tugas macam-macam, kalau jurusan aku, jangan ditanya deh, udah dosennya killer-killer, banyak tugas ini-itu, uuhh, pusing…..”. Kalau aku pribadi sering banget. Sebetulnya aku tidak mengerti, mengapa mereka mengatakan kata-kata itu?. Bagiku itu salah banget.

Pekerjaan atau apa pun itu, tidak ada yang enak, kecuali kita berusaha untuk menikmatinya. Jadi, berusahalah untuk menikmati apa yang kamu lakukan saat ini. Tidak semua orang lho bisa kerja atau kuliah seperti kita. Memang kita tidak boleh puas hanya dengan keadaan kita yang sekarang. Tapi alangkah baiknya kalau kita bekerja sambil menikmati pekerjaan kita, dan mengerjakannya dengan sebaik-baiknya. Insya Allah, energi dari dari apa yang kita lakukan itu akan kembali kepada kita, jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan ikhlas.

Orang-orang sukses, mereka tidak langsung sukses seperti yang kita lihat sekarang. kebanyakan mereka juga sama seperti kita. Mereka beranjak dari bawah, bekerja dengan sebaik-baiknya mulai dari bawah hingga seperti yang kita lihat sekarang. Kalau kita membaca biografi mereka, maka kita akan menemukan bahwa mereka kebanyakan orang yang bersusah-susah terlebih dahulu. Mereka semua mengikuti hukum proses, karena kita semua memang sedang berproses. kita hanya harus menikmati proses tersebut, dan lakukan yang terbaik dimana pun kita berada saat ini.

‘Rumput tetangga itu selalu kelihatan lebih hijau’. Begitulah seringnya kita melihat suatu permasalahan hanya dari luarnya saja. Kita hanya melihat enaknya kalau bekerja seperti orang lain. Padahal biasanya mereka pun beranggapan bahwa sepertinya enak mempunyai pekerjaan seperti kita. Ya, memang seperti itulah seringnya orang memandang tentang orang lain.

Manusia memang dilahirkan dengan serba ketidakpuasan. Itulah mengapa manusia itu selalu melihat apa yang orang lain punya, bukannya menikmati apa yang mereka punya. Sepertinya memang ini salah satu fitrah manusia untuk selalu berkeluh kesah, dan tidak puas dengan pekerjaannya, dengan penghasilannya, sekolahnya, dan lain sebagainya.

Rasanya akan lebih nikmat jika kita mensyukuri apa adanya kita sekarang, sambil menikmati proses, dan berusaha untuk tumbuh, dan berkembang dengan potensi yang kita punya. Sambil menikmati proses, kita juga mulai mencari apa sih pekerjaan yang cocok untuk kita, yang merupakan jalur alamiah kita. Karena setiap orang itu mempunyai jalur alamiah masing-masing, aku yakin itu.

Jalur alamiah kita adalah; pekerjaan yang cocok untuk kita, yang kita menikmati pekerjaan itu, tanpa ada rasa keterpaksaan untuk mengerjakannya. Aku juga terus terang belum mendapakan jalur alamiahku sendiri, tapi aku sudah mulai menemukan apa kecenderunganku itu. Dan, insya Allah aku sedang berproses kearah jalur alamiahku itu.

Jadi, rumput tetangga itu memang kelihatan lebih hijau dari pada rumput di pekarangan rumah kita sendiri. Tapi alangkah lebih baiknya jika kita tidak hanya memperhatikan rumput di pekarangan rumah tetangga terus, tetapi perhatikanlah rumput di pekarangna rumah kita yang mulai menghijau, malah mungkin akan lebih hijau dari rumput di pekarangan rumah tetangga, kalau kita mengurusinya, menyiraminya, dan menikmati proses menghijaunya rumput di pekarangan rumah kita.

so, hijaukan rumput pekarangan rumah kalian!.

Salam.

Ujian Atau Azab?

Posted: Oktober 28, 2010 in ART

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman,”, sedangkan mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar. Dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut, 1-3)

Kawan, akhir-akhir ini negeri kita sedang ditimpa bencana yang bertubi-tubi. Dimulai dari banjir bandang di Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai Sumbar, dan yang terakhir ini, banjir dan juga Gunung Merapi yang sedang meletus lagi. Beratus-ratus orang yang sudah menjadi korban jiwa, harta, kehilangan keluarga, dan lain-lain. Sudah cukup rasanya air mata saudara-saudara kita berjatuhan.

Lalu, apa penyebab semua ujian (atau malah azab) ini?. Kurasa , kitalah sebagai manusia yang menjadi penyebabnya, dan memang dalam sejarah panjang manusia, selalu manusialah yang menjadi penyebabnya. Karena Tuhan tidak mungkin menurunkan bencana (atau azab), tanpa ada penyebab dan maksud dibalik itu. Coba renungkan ayat-ayat Al-Qur’an diatas. Termasuk golongan orang-orang benar ataukah pendustakah kita?. Wallahu a’lam.

Saya takut bahwa ini sebentuk azab yang dikirimkan Allah kepada bangsa ini, seperti azab yang diturunkan Allah kepada kaum-kaum yang terdahulu (seperti yang tertera dalam Al-Qur’an, yaitu siksa yang diturunkan kepada kaum-kaum yang mendustakan para nabi dan rasul, yang diutus Tuhan untuk kaum tersebut). Allah menurunkan azab itu kepada kaum yang kafir atau kaum yang zalim. Termasuk kedalam golongan manakah negeri kita tercinta ini?. Saya harap bukan kedua-duanya. Karena katanya, negeri ini sudah mulai menjauh dari religiusitas. Na’udzubillah.

Kita lihat, akhir-akhir ini banyak kasus kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh “para pemangku amanah”. Mulai dari kasus Bank Century yang tak ada ujung pangkalnya, rekening gendut para petinggi POLRI, korupsi yang sudah mencengkeram instansi-instansi, dan lain-lain. Apakah ini yang menjadi sebab kemurkaan Tuhan atas kita?. Berarti, dosa segelintir orang, bisa menyebabkan bencana yang merugikan banyak orang. Sungguh, mereka itu berdosa kalau begitu.

Tuhan maha tahu, tapi menunggu”. Leo Tolstoy.

Kutipan diatas merupakan kebenaran universal. Yang berarti, hampir setiap orang dan agama mengakui atas kebenaran postulat ini. Mungkinkah bencana –bencana ini akibat dari dosa aggregat bangsa ini, dan apakah ini yang ditimpakan Tuhan untuk manusia, karena kejahatan-kejahatan yang dilakukannya?. Kita tidak bisa mengiyakan, ataupun menidakkan pernyataan ini, karena ini bukanlah pertanyaan yang harus dijawab.  Malah, kita masing-masing mungkin sudah tahu jawabannya.

Kita lihat juga realitas di negeri ini, korupsi sudah mengakar kuat di negeri ini. Malahan, badan yang seharusnya bertugas membasmi para koruptor ini, hampir-hampir bisa dilemahkan oleh komplotan mereka (baca: koruptor). Para pemangku jabatan dan penerima amanat, sudah menyalahgunakan amanat dan jabatan yang mereka terima. Ironi sekali, jika kita membandingkannya dengan Mbah Maridjan, pemegang kunci Merapi yang katanya menjadi salah satu korban meninggal dalam letusan Gunung Merapi (menurut berita, dalam keadaan sedang bersujud, subhanallah).  Dia meninggal, demi amanat yang diembankan kepadanya (dari Seri Sultan Hamengku Buwono IX), yaitu menjaga gunung Merapi (malahan sampai titik darah penghabisan). Sepertinya , para elit di negeri ini harus mencontoh etos, integritas, dan pengabdian Mbah Maridjan pada pekerjaannya. Sepertinya negeri ini butuh orang-orang yang setulus Mbah Maridjan, dengan kesederhanaan dan kebersahajaannya.

Korupsi dari pucuk ke akar sudah menjadi budaya dinegeri ini. Sebenarnya kita tidak mau korupsi itu menjadi budaya, tapi itulah realitasnya. Contoh kecilnya; dosen yang mengurangi jam mengajarnya, dengan alasan yang lucu, karena mahasiswa yang menginginkan. Padahal mereka dibayar oleh mahasiswanya (khususnya di Perguruan Tinggi dan Universitas swasta, kalau dinegeri, ya…sepertinya tidak jauh beda).

Penduduk negeri ini pun, banyak yang menzalimi dirinya sendiri. Tadi saya baca di internet, beberapa orang nekad minum-minuman keras sampai meninggal,puluhan botol  alkoihol 70% dicampur dengan dextrometorphan (obat batuk), ditambah lotion anti nyamuk, dan lain-lain. Apakah itu tidak menzalimi diri sendiri?. Obat untuk mengusir nyamuk, dimakan oleh manusia, lem dihirup, apa lagi?. Inilah yang dinamakan menzalimi diri sendiri. Na’udzubillah.

Marilah kita mawas diri, sebagai bangsa dan sebagai individu. Kita harus muhasabah dan memperbaiki semua keburukan kita. Jangan saling menyalahkan. Sebaliknya kita harus saling mengingatkan. Kembalikan regiusitas kita. Insya Allah semua ini ada hikmahnya.

Salam!

BAHAGIA=Syukur

Posted: Oktober 24, 2010 in ART

Beberapa hari yang lalu, aku berbincang-bincang dengan teman kuliahku, dia bertanya: “sul, salary kamu berapa?”. Ya aku jawab dengan jujur tentang jumlah gajiku. Dia membelalakkan matanya, sambil bicara: “Kamu serius?, kamu bisa survive dengan salary segitu?”.

Aku jawab: “iya, aku serius. Memangnya kenapa?”.

Dia menjawab: “Ah, aku enggak percaya”. Dia melanjutkan:”soalnya aku dengan gaji tiga kali lipat lebih dari kamu, perasaanku masih khawatir deh dengan keuanganku, kok kamu bisa ya, hidup dengan uang segitu, sambil kuliah, belum biaya makan, hidup dan lain sebagainya.”.

Aku menjawab: “aku juga enggak tahu kenapa.”

Temanku: “Iya, aku sih heran aja, kok bisa ya kamu hidup dengan uang segitu dengan segala biaya hidup kamu. Sedangkan kamu 100% berdikari”. Dia melanjutkan: “sedangakan aku yang masih hidup bersama keluarga aja, kadang merasa kekurangan.”.

Aku menjawab: “itu mungkin yang dinamakan ada sesuatu yang tak kasat mata, yang membantuku hidup.”

Ini sebuah obrolan antara aku dengan salah satu teman kuliahku beberapa hari yang lalu. Sebenarnya sudah berulang kali aku mendapatkan pertanyaan serupa dari teman-teman yang lain. Dan jawabanku selalu sama, aku juga tidak mengerti.

Dari sini aku mengambil kesimpulan. Benar sekali bahwa kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan materi semata. Buktinya banyak orang yang tidak merasa bahagia dengan kekayaannya yang berlimpah. Karena menurutku kekayaan itu berbeda dengan kebahagiaan, sangat berbeda. Bagiku materi itu hanya bonus yang diberikan Tuhan bagi manusia. Sedangkan kebahagiaan itu adalah anugerah dari-Nya.

Dalam obrolan diatas, aku Cuma bisa mengatakan pada temanku bahwa aku bahagia dengan jumlah gajiku yang sekarang ini. Dan selanjutnya aku mengatakan pada temanku, bahwa gaji dia itu sangat pantas untuk bisa membahagiakan dia. Cara agar kita bahagia dengan apa yang ada pada diri kita sekarang adalah dengan bersyukur. Menurutku itulah kunci dari kebahagiaan. Kalau tidak salah, Tuhan mengatakan bahwa Beliau akan menambah rezeki orang yang bersyukur. Rezeki itu bukan hanya berbentuk materi, tapi kebahagiaan menurutku adalah rezeki yang paling besar, karena kebahagiaan itu tak ternilai.

Bahagia juga berarti menikmati semua apa yang ada di sekitar kita. Apa yang kita lihat (tentu, yang baik-baik), apa yang kita makan, apa pekerjaan yang sedang kita lakukan, dan masih banyak lagi yang bisa membuat kita bahagia di dunia ini. Sampai hal-hal kecil pun bisa membawa kebahagiaan untuk kita, seperti bermain dengan anak-anak, melihat bunga yang warna-warni, dan lain-lain.

Saya pernah mendengar cerita, konon zaman dahulu kala, ada seorang pemuda yang mencari kebahagiaan. Dia berkelana dari satu tempat, ketempat lain, hanya untuk bertemu orang-orang bijak yang mengetahui apa arti dari kebahagiaan itu. Suatu ketika, dia mendengar bahwa ada seorang bijak yang tinggal disebuah istana, yang mengetahui tentang makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Pemuda tersebut dengan penuh sukacita bertekad untuk bertemu dengan orang bijak tersebut.

Singkat kata dengan tekadnya yang membara untuk bertemu dengan orang bijak yang mengetahui tentang arti kebahagiaan tersebut, akhirnya si pemuda pun berhasil menemukan istana tempat si orang bijak tersebut menetap. Dia pun menemukan sebuah istana yang megah, dan dia pun terpana dengan kemegahan dan keindahan istana tersebut. Tanpa berlama-lama, si pemuda itu pun masuk ke istana. Setelah bertanya kepada pengawal yang berjaga-jaga di depan gerbang, akhirnya dia dibawa menghadap ke hadapan  orang bijak tersebut,dan dipersilahkan duduk. Orang bijak tersebut menanyakan apa maksud kedatangan pemuda itu. Dan si pemuda pun menjawab dengan sejujurnya apa yang menjadi maksud kedatangannya ke istana tersebut, bahwa dia ingin mengetahui rahasia kebahagiaan dari si orang bijak tersebut.

Si orang bijak mengangguk- angguk tanda mengerti. Akhirnya dia pun berkata:”Baiklah, akan aku beritahu apa itu kebahagiaan. Tapi sementara aku menyiapkan jawabannya, ada baiknya engkau bejalan-jalan di istanaku. Tapi engkau aku tugaskan untuk membawa sendok yang berisi beberapa tetes minyak ini, dan aku harap engkau tak menumpahkannya.”. Si orang bijak berhenti sejenak, lalu melanjutkan:” Dan aku tugaskan engkau juga untuk menerangkan keadaan istanaku ini. Setelah satu jam kamu boleh kembali lagi kesini!”.

Pemuda tersebut pun melaksanakan apa yang sudah ditugaskan padanya. Dia pun berkeliling istana, dan benar-benar mengagumi keindahan istana itu. Tidak terasa sudah satu jam dia lewatkan untuk berkeliling istana tersebut. Dan tibalah saatnya untuk menghadap kembali kepada orang bijak tersebut.

Setelah sampai ke hadapan orang bijak itu, si pemuda pun diminta untuk menerangkan apa saja yang dilihat di istananya tersebut. Dan dengan bersemangat si pemuda pun bercerita dengan panjang lebar tentang apa-apa yang dilihatnya di istana tersebut. Orang tua tersebut pun mengangguk- angguk tanda setuju dengan apa yang di terangkan pemuda tersebut. Sampai akhirnyasi orang bijak pun akhirnya bertanya; “Tapi kemana tetes-tetes minyak di sendok itu anakku?”. Si pemuda pun kaget, saat mendapati ternyata sendoknya sudah tidak ada isinya. Orang bijak pun melanjutkan: “Kebahagiaan adalah, menikmati apa yang ada disekeliling kita, sambil menjaga tetes-tetes minyak yang ada di sendok kita!”.

Jadi teman-teman, nikmati yang ada, dan bersyukurlah!,.    Insya Allah rezeki kita akan bertambah. Rezeki itu bukan Cuma berbentuk materi, tapi sehat, kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang kadang-kadang kita abaikan. Sebenarnya kebahagiaan kecil itu akan menjadi besar apabila disertai dengan rasa syukur. nikmatilah kebahagiaan, dimana pun kamu berada tanpa melupakan tetes-tetes minyak di sendokmu.

Salam.